33.1 C
Medan
Minggu, 3 Mei 2026
Beranda blog Halaman 3

Menjadi Guru dan Teman di Usia Mereka – oleh Ms Reni

Saya seorang pengajar di tingkat Taman Kanak-Kanak, lebih singkatnya TK. Lazimnya usia pada TK 4-6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka dalam berbagai hal : Psikomotorik, Sosial-Emosional, serta Kognitif  dan Bahasa. Banyak hal-hal yang akan mempengaruhi tumbuh-kembang mereka termasuk lingkungan sekolah (pondasi kedua setelah rumah). Hal paling dasar yang akan mempengaruhi tumbuh-kembang mereka dalam jangka waktu yang sangat panjang, tertanam dalam diri-pikiran mereka. Saya akan membahas satu per satu, namun tidak akan terlalu rinci “bagaimana perkembangan anak usia 4-6 tahun?” menurut beberapa aspek yang saya sebutkan sebelumnya.

Pertama, perkembangan Psikomotorik anak usia 4-6 tahun. Pada tahap ini mereka mulai mencoba dan berani melakukan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan fisiknya ; melompat, memanjat, berlari dan lainnya. Kedua, perkembangan sosial-emosional. Kemampuan sosial mereka pada usia ini sangat mempengaruhi kestabilan emosional mereka. Cara mereka berteman dan bermain dengan teman sebaya-nya, menjadi wadah baru bagi mereka untuk merasakan berbagai bentuk emosi lain : marah, kesal, sedih, senang, bahagia. Ketiga, perkembangan kognitif dan bahasa. Pada usia ini, kemampuan kognitif dan kosakata anak sangat meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari anak-anak yang akan sangat sering bertanya banyak hal “ikannya lagi ngapain?”, “pohonnya kenapa?”, “nama ayam-nya siapa?”. Respon spontan dari kita (guru atau orang dewasa lainnya) akan menjadi acuan berpikir mereka dalam jangka waktu yang panjang.

Hal-hal yang saya bicarakan diatas merupakan pemahaman baru bagi saya sendiri. Ketidak-inginan saya sebelumnya berubah menjadi rasa ingin tau banyak hal tentang mereka. “Bagaimana cara membantu mengelola emosi mereka? Bagaimana cara memilah kata sederhana agar mudah dipahami mereka? bagaimana saya memberi pengalaman belajar yang menyenangkan?” dan masih banyak bagaimana-bagaimana lainnya untuk saya berikan kepada mereka.

“Golden Age” adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan mereka, dimana pada usia ini segala informasi mengenai kosakata, perilaku baik-buruk disekitar akan diserap seluruhnya dan akan menjadi dasar terbentuknya karakter, kepribadian, serta kemampuan kognitif mereka. Saya sebagai seorang pengajar baru tanpa pengalaman benar-benar diberi tantangan yang luar biasa. Saya diberi kepercayaan lebih untuk menjadi dasar terbentuknya kepribadian mereka.

Menjadi Pseudo Teacher Anak Istimewa – oleh Ms Anggreini Ayu Lestari Br Sembiring

Awalnya saya tidak mengetahui mana sebutan yang benar. “Pseudo Teacher” atau “shadow teacher”. Pekerjaan yang saat ini sedang saya jalani. Pseudo teacher adalah sebuah pekerjaan yang menghantarkan saya ke perjalanan jauh ini. Bukan hanya “mendampingi” tapi saya juga harus “memahami” setiap gerak gerik dari anak.  Saya harus siap dengan sekumpulan hal baru apa yang akan terjadi di setiap harinya.

Melihat anak dengan autisme bukan hal baru bagi saya, tapi “mendampingi” seorang anak dengan autisme adalah tantangan baru bagi saya.  Autisme atau autism spectrum disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan kondisi kesulitan berkomunikasi, minimnya interaksi sosial, ketertarikan terbatas pada hal-hal yang ada di sekitar , sering mengulang ulang suatu kegiatan dan gangguan sensorik. Ada banyak individu dengan kondisi ini yang mengalami hambatan dalam kemampuan berbicara dan  juga berbahasa.  Selain itu ada juga yang mengalami gangguan secara kecerdasan dan kemampuan fokus yang lemah.

Pengidap  autisme juga memiliki masalah dalam berkomunikasi. Mereka cenderung kesulitan untuk bisa memahami perasaan orang lain dan bagaimana cara orang lain berpikir. Anak dengan autiusme juga sulit untuk mengekspresikan dirinya.

Saya pernah membaca sebuah pertanyaan di suatu website “Apakah imunisasi bisa menyebabkan anak mengalami kondisi autisme”, jawabannya “tidak”. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa autisme bukan disebabkan oleh imunisasi dan di kalangan masyarakat awam masih banyak yang menyalahkan pemberian imunisasi sebagai penyebab munculnya gejala autisme pada anak. Tidak ada penelitian yang dapat membuktikan jika imunisasi adalah penyebab kondisi ini. Ada juga pertanyaan “apakah autisme termasuk gangguan mental” . jawabannya adalah tidak, autisme bukanlah gangguan mental atau gangguan jiwa, autisme merupakan kondisi yang terjadi karena adanya masalah perkembangan. Seperti orang orang pada umumnya, pengidap autisme bisa memiliki kondisi mental yang sehat, namun tak jarang dari mereka juga mengalami  masalah kesehatan mental.

Setiap hari membersamai anak dengan kondisi autis merupakan suatu pelajaran yang sangat hebat yang bisa saya syukuri selama saya hidup. Melihatnya bertumbuh dan bermain bersama teman teman sebayanya membuat saya berfikir bahwa Allah maha baik, membiarkan saya bertemu dengan anak surga ini.

“Apakah autisme bisa disembuhkan” “apakah anak dengan autisme bisa normal” “apakah gangguan autisme bisa hilang ketika mereka dewasa” pertanyaanpertanyaan itu sempat mengacaukan pikiran saya beberapa waktu, tapi benar juga ya, saya pikir. Apakah autisme bisa sembuh. Saya lalu menemukan jawabannya. Tidak ada obat ataupun perawatan yang bisa menyembuhkan autisme, tetapi anak yang mendapatkan penanganan sejak dini akan mengalami perbedaan yang signifikan dalam perkembangannya. Bukan hanya anak yang mengalami kondisi ini, keluarga juga perlu melakukan konseling dan mendapatkan edukasi agar paham terapi apa yang perlu dan dibutuhkan anak.

Bukan Untuk Sederet Angka – oleh Ms Rizky

Sang ujung tombak pendidikan, guru selalu punya cerita tersendiri. Dari dulu, peran “Guru Ngaji” sangat penting dalam membangun generasi berakhlak Islami ataupun Qur’ani. Mereka menjadi role model penting dalam dunia pendidikan, utamanya di Indonesia.

Mereka yang memberikan seluruh tenaga, pikiran, waktu hingga harta untuk orang lain tak pernah memikirkan punya gaji besar. Keikhlasan menjadi ruh perjuangan. Gaji atau upah tidak terlalu mereka pikirkan. Yang lebih mereka inginkan adalah balasan Allah di hari akhirat kelak.

Begitulah orang beriman, disertai sabar dalam ujian, lalu syukur dalam kenikmatan. Allah hadiahkan hati yang lapang bersama kesulitan.

Perjuangan guru dalam mengajar tak jarang membuat kagum. Hal ini lah yang ditunjukkan dari perjuangan seorang guru di pedalaman Labuhan Batu, Sumatera Utara.

Atas dasar keterpanggilan hati, ummi Siti -panggilan akrab Siti Amri- memulai tonggak awal mengabdikan diri sebagai guru di MDTA (Madrasah Diniyah Takwiliyah Awaliyah) Taqwa Sidomakmur, Desa Sei Jawi-Jawi, Kecamatan Panai Hulu, ibu kota Kab. Labuhan Batu sejak enam tahun belakangan. Dengan modal berani, saat mengikrarkan diri menjadi guru madrasah, ummi Siti mengaku prihatin dengan anak-anak usia sekolah yang kurang mendapatkan perhatian di bidang agama. Ummi Siti khawatir semakin tergerusnya nilai-nilai Islam di desanya.

“Saya mengajar di sini sejak enam tahun lalu, dan masih akan tetap melayani sampai waktu meminta saya untuk berhenti,” terang ummi Siti.

Belum lagi bagaimana sulitnya hidup di wilayah pedalaman. Ummi Siti mengaku dilingkupi keterbatasan, sarana maupun prasarana. Untuk itu, ummi Siti bersama rekan pengajar berupaya memanfaatkan madrasah yang ada di kampungnya, menyelenggarakan pendidikan dan pembinaan bagi generasi muda. Dalam sepekan, seperti sekolah pada umumnya, madrasah ini merutinkan kegiatan belajar-mengajar setiap hari. Mulai pukul 14.00 sampai 17.00 WIB sore hari terlihat puluhan anak hadir belajar.

Saat berbincang dengan ummi Siti, ternyata sejarah madrasah yang diberi nama MDTA Taqwa Sidomakmur itu luar biasa. Berangkat dari problematika kekhawatiran orang tua terhadap minimnya pelajaran agama Islam yang anak-anaknya dapatkan. Bersama warga masyarakat setempat, beberapa guru di madrasah ini bertahap bahu-membahu membersamai proses pembangunan. Misinya, menjaga aqidah anak-anak muslim. Alhamdulillah semua sepakat.

 Awal pendirian madrasah keadaannya masih sangat memprihatikan. Atapnya terbuat dari tepas, dinding kelasnya diberi sekat tripleks sebagai tanda batas ruang satu dengan ruang lainnya. Sekilas diperhatikan tidak begitu menarik dipandang mata, meja dan kursinya sebagian tak layak pakai. Seiring berjalannya waktu, keadaan madrasahnya mulai terperbaiki. Perlu untuk diketahui, saat ini, madrasahnya masih butuh satu ruang belajar lagi.

Untuk sampai di tempat mengajar, ummi Siti biasa menempuh perjalanan sekitar satu setengah kilometer dengan menggunakan sepeda motor. Melewati jalan yang sempit dan berkelok-kelok. Butuh waktu 12-17 menit untuk sampai di sana. Tak terkecuali saat musim hujan seperti sekarang ini. Jalanan licin, lumpur dan menyebabkan motor mogok adalah sedikit dari banyaknya tantangan yang dihadapi ummi Siti. Kondisi sekolah yang terbatas dengan segala fasilitas, sarana mengajar, bahan atau buku ajar lainnya, tetapi bukan persoalan bagi ibu yang kini dikaruniai 3 orang anak ini.

Karena terbatasnya jumlah tenaga pengajar, terpaksa ummi Siti harus menanggungjawabi banyak pelajaran. Diantaranya, belajar Arab Melayu, bahasa Arab, Nahwu, Shorof. Ummi Siti juga ingin membekali muridnya dengan akhlak mulia. Seperti, membiasakan mereka shalat lima waktu dan shalat sunnah serta menghafalkan Al-Qur’an. Tidak dipaksa, tapi antusias anak-anak luar biasa menyambut pelajaran yang diberikan. Dari awalnya terhitung jari, Alhamdulillaah, kini murid mengaji di madrasah ini berjumlah kurang lebih 40-an anak.

“Beginilah kegiatan di sini. Meski lokasi sempit dan tenaga pengajar terbatas, Alhamdulillaah lagi atas izin Allah kami bisa mengurus anak-anak mengaji ini. Mereka senang, kami lebih senang,” itulah ungkapan yang disampaikan ummi Siti, ketika saya menuliskan kisah ini.

Siang itu seperti biasa, sebelum kelas dimulai, anak-anak berlarian menyambut ummi Siti dengan bahagia. Satu persatu menyalami para guru. Dari hal kecil itulah anak-anak mendapat ‘value’ betapa pentingnya menghormati yang lebih tua. Terlihat tidak semua anak mengenakan seragam madrasah.

Ummi Siti juga menambahkan, “Untuk cara mengajar, saya memposisikan diri tidak hanya sebatas pengajar, tetapi lebih sebagai orang tua anak-anak. Tak jarang, mereka selalu menanti saya setiap hari. Semangat saya membuncah. Meski saya orang tak berilmu tinggi dan saya juga bukan sarjana”.

Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi ummi Siti. Pasalnya, salah satu muridnya yang bernama Fatmatul Husnah Harahap (10) menoreh prestasi yang membanggakan. Setiap usai sholat ia selalu membaca Al-Qur’an. Bukan hanya membaca Al-Qur’an, menghafalkannya sudah menjadi kebiasaan rutin. Itulah yang ditanamkan oleh ummi Siti kepada murid-muridnya.

“Saya membaca Al-Qur’an tiap selesai sholat kak, waktu belajar di ngaji juga baca Qur’an” celotehnya via telepon.

Husnah adalah anak yang baik, pintar dan pandai bergaul dengan temannya. Sehari-hari, setiap pulang sekolah, ia langsung membantu ibunya, dan menjaga adik. Ia juga satu dari banyaknya murid yang sering terlibat dibeberapa perlombaan di sekolahnya.

Agar anak-anak semakin bersemangat dan percaya diri, murid binaannya kerap kali diikutsertakan dalam lomba-lomba keagamaan. Tak jarang, muridnya juara dan lolos ketingkat kabupaten. Uniknya, karena perjalanan darat ke kabupaten sangat jauh, muridnya melewati perjalanan laut. Menggunakan transportasi perahu motor karena medan yang cukup jauh.

Di sini saya coba menggali, “apa yang membuat ummi Siti bertahan untuk mengajar di madrasah ini?,” jawab ummi Siti singkat: “Saya takut menyesal menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik. Islam mengajarkan saya bersyukur atas pemberian-Nya. Bertahan dalam situasi yang Allah amanahkan”.

Niat tulusnya mengabdi tidak pernah goyah meski menerima honor yang kecil. Baginya, membuat anak-anak bisa terus mengenyam pendidikan lebih penting dari sekadar imbalan. Menyinggung soal honor guru di masa sulit sekarang ini, sudah bukan rahasia lagi, guru-guru di pedalaman sering tak mendapatkan gaji. Padahal, kalau bukan karena jasa seorang guru, tidak ada yang namanya peradaban. Salah satunya, begitulah yang dirasakan ummi Siti dan beberapa guru lainnya.

“Gaji guru hanya 300 ribu rupiah perbulan. Kadang mandek, tidak gajian sampai 3 bulan karena orang tua anak-anak nunggak bayar SPP. In syaa Allah kami ikhlas yang penting anak-anak mau belajar. Minimal anak-anak mampu membaca Al-Qur’an dan terjaga akidahnya. Inshaa Allah pahala yang terus mengalir menjadi amal jariyah untuk menolong kami di akhirat nantinya,” kenang ummi Siti.

Kondisi wali murid juga memprihatinkan. Ekonominya pas-pasan. Umumnya mereka adalah pekerja buruh tani lepas di ladang tanah milik tetangga. Ada juga sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit. Diberi upah 40-70 ribu per harinya. Kebanyakan, penghasilan mereka hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Walau berada disituasi yang sulit, anak-anak tak putuskan untuk semangat menghafal, memuroja’ah, dan berprestasi. Bahkan beberapa anak yang membantu orang tua bekerja pun mereka selipkan beberapa buku di dalam tas dan menyempatkan diri untuk membaca.

Tantangan yang ummi Siti dan guru lainnya hadapi luar biasa, termasuk minimnya perhatian terhadap kesejahteraan mereka. Kata ummi Siti, sering guru-guru di MDTA berhutang di warung, untuk hanya sekedar membeli bensin motor. Setelah gajian baru bayar. Seolah tak kekurangan ide, disamping mengajar, sesekali ummi Siti kerap berburu menjadi buruh kupas pinang.

Dari ceritanya itu, ummi Siti nampak sekali ingin menunjukan bahwa dalam perjuangan mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak bangsa, sesulit apa pun rintangannya, pertolongan Allah itu nyata.

Meskipun demikian, ummi Siti berharap, semoga Allah memberikan kekuatan serta keistiqomahan bagi para guru di pedalaman serta menguatkan niat dengan tulus dan ikhlas.

Bagi ummi Siti tak ada yang lebih mengharukan, di saat para anak didik bisa menjadi insan yang berguna bagi sesama. Generasi ini tidak hanya butuh pengetahuan, tapi juga pendidikan karakter.

Mereka yang hanya mengambil sedikit untuk diri, lalu menyerahkan sisanya pada Ilahi. Memohon agar Allah terima segala kelelahannya, agar Allah terima setiap amalnya, agar Allah apresiasi setiap bulir keringatnya.

Siapa menolong agama Allah, Allah pasti akan menolongnya,” tegas ummi Siti.

Jika hidup adalah perjalanan, jangan lupa membawa bekalnya. Semoga semua perjalanan kita dalam rangka menuju-Nya. Jangan patah semangat, teruslah menebar manfaat.

Panjang umur guru-guru berdedikasi yang hatinya tulus mengembangkan pendidikan untuk generasi Indonesia. Semoga kisahnya menjadi inspirasi bagi kita semua. Aamiin.

Helping people live a better life!

CEKRAK-CEKREK UNTUK ANAK-ANAK* – Oleh Mr Titan

          Saya pengajar Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia, “Selalu membosankan, Pak.” kata salah satu murid. Murid saya tidak salah. Sewaktu saya sekolah pun guru Bahasa Indonesia hanya fokus pada ‘teks’—seakan-akan bahasa selalu berkaitan dengan teks. Padahal bahasa berhubungan dengan segala hal: musik video, gim, lukisan, bencana alam, robot, gawai, mamalia, film dan lainnya. Semua hal yang saya sebutkan akan kembali pada ‘teks’—sebab bahasa sebagai alat komunikasi/informasi. Namun ketika di sekolah, saya merasa bahwa anak-anak harus dipantik oleh yang ‘bukan teks’ terlebih dahulu, alih-alih langsung memberikan atau menginstruksikan untuk memproduksi teks. Seringkali saya melihat murid yang kebingungan ketika berhadapan dengan instruksi seperti ini: tuliskan puisi bertema air atau tuliskan cerita pendek bertema batu atau tuliskan esai bertema pasir atau atau lainnya… Mungkin mereka kebingungan karena instruksi itu diberikan ketika mereka duduk rapi di dalam kelas, dengan meja-kursi, dengan guru di depan mereka. Berbeda hasilnya, mungkin, jika mereka belajar di luar kelas seraya tangannya basah kena air, memukul-mukul batu atau bermain pasir di lapangan sekolah—seraya suara burung atau angin datang atau alam bergerak bersama diri mereka.

          Saya pengajar Bahasa Indonesia. Ketika mengajar di kelas 7 SMP materi Teks Deskripsi. Saya langsung berpikir: dengan cara apa saya memantik mereka? Pada pertemuan 1, saya menjelaskan pengantar soal Teks Deskripsi. Bahwa Teks Deskripsi itu dekat dengan keseharian, tanpa sadar kita telah mendeskripsikan sesuatu demi kepentingan tertentu: memberitahu informasi, menuliskan imajinasi dan bercerita dengan kreatif. Pertemuan 2, saya membebaskan anak-anak mendeskripsikan benda-benda di sekitarnya: tas, tumblr, pensil, pena, papan tulis, dinding dan lain sebagainya. Anak-anak mencoba menjelaskan bentuk fisik, aroma, tekstur, fungsi, rasa dan lain sebagainya. Mereka bergerak di antara pengalaman dan percobaan. Pertemuan 3, anak-anak melihat sekaligus menafsir lukisan realis dan surealis. Di sini kemampuan imajinasi digunakan dengan sangat baik oleh mereka. Membayangkan sesuatu, entah itu dialog, konflik atau peristiwa. Mereka seperti masuk ke dalam dunia seniman yang luas dengan interpretasi yang asik.

           Pada pertemuan 4, mereka memotret subjek-objek di sekitar sekolah lalu menuliskan teks yang berkaitan dengan foto yang telah dipotret. Pada momen kali ini, anak-anak membawa gawainya masing-masing. Mereka menggunakan kamera melalui gawai. “Cari benda yang menarik buat kamu atau momen yang menurutmu puitis. Gunakan teknik-teknik foto yang kamu lakukan sehari-hari…” kata saya. Saya membebaskan mereka untuk mencari subjek atau objek foto. Mereka bergerak bebas ke sana ke mari. Saya memantau dari jauh.

           Pada momen ini anak-anak mengalami sekaligus berpikir: subjek-objek apa yang akan saya potret, sebab foto mirip seperti puisi yang sifatnya ‘fragmen’—hanya potongan peristiwa—kita tidak bisa memotret atau membicarakan sesuatu yang kompleks, karena kita hanya mengambil yang ‘sepotong’ itu, kita tahu bahwa itu ‘penting’ setidaknya buat kita. Dunia dalam kamera adalah dunia yang sulit terulang, sekali ‘cekrek’ berbeda dengan cekrak-cekrek selanjutnya—sebab waktu berjalan, cahaya berubah, subjek-objek berpindah dengan sendirinya dan kita, manusia, terpana dengan laju waktu yang begitu cepat. Semua hal itu bergerak dalam fotografi bagi saya, sang pemotret harus sadar dengan dirinya dan kameranya. Anak-anak saya di kelas Bahasa Indonesia bergerak di ranah-ranah seperti itu. Mereka tidak bergerak melalui teks, mereka bergerak melalui visual yang dekat dengan dirinya, dekat dengan pagi-siang-sorenya di sekolah. Foto Akmal di atas menjelaskan pada kita: bagaimana tanah dan rumput bila diperdekat, setiap hari kita menginjak rumput, memegang tanah, tapi apakah kita tahu bagaimana bentuknya? Hewan-hewan apa yang tinggal di sana, Akmal [kelas 7 SMP Azzakiyah Islamic Leadership] setidaknya menjelaskan itu pada kita. Tanah dan rumput seringkali menjadi latar fabel, film animasi dan pertunjukan buat anak-anak. Akmal bergerak melalui foto yang dekat, mungkin karena dia ingin menggapai detail.

           Berbeda dari Akmal, foto-foto Bagus ingin menangkap momen. Bagus menunggu sesuatu terjadi. Air yang jatuh menghasilkan bentuk yang harus segera dicekrek. Ini menarik karena hal-hal kecil ditangkap dengan baik. Bagus menulis: pipa yang kotor dan berlumut. kecipak air. tangan menjadi lengket. Momen ini, bagi saya, puitis. Sulit ditangkap mata kamera, mungkin mata manusia mudah menangkapnya. Tapi momen Bagus menunggu sesuatu terjadi adalah hal yang menarik perhatian saya. Foto-foto Bagus bergerak di momen seperti itu, teks Bagus juga menjelaskan foto dengan kata benda, kerja dan sifat. Fotografi, setidaknya bagi Bagus, adalah momen yang ‘harus’ diabadikan. Kemampuan berpikir cepat dan kreatif seperti ini, dipantik oleh fotografi. Fotografi bergerak antara persiapan, pengetahuan visual, sudut pandang dan sedikit improvisasi.

           Foto Bagus kali ini menangkap detail: tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tak terjangkau oleh tangan manusia. Bagus menulis begini untuk fotonya: sebuah drainase yang berlumut dan berbau campuran yang terdiri dari air hujan, lumpur, kotoran. Suara air yang mengenai daun. Ketika bagus menjelaskan tentang baunya—Bagus mencoba memanggil kembali benda-benda yang telah menyentuh drainase: masa lalu yang telah terjadi. Ternyata air hujan pernah singgah di sana, begitu pula lumpur dan juga kotoran. Pada foto kali ini, Bagus ingin menunjukkan pada kita hal-hal yang sulit dijangkau tangan dan mata manusia.

           Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa saya senang mencoba. Pada materi Teks Deskripsi ini, saya merasa bahwa anak-anak lihai serta kreatif menuliskan kata benda, sifat dan kerja yang menggambarkan visual, bau, rasa, peraba dan suara. Pengalaman mereka berinteraksi dengan alam, dengan mata kamera serta dengan keterampilan menulis adalah pendekatan yang menarik sekaligus digandrungi dengan anak-anak. Saya jadi ingat ketika Akmal bertanya “Mr Titan, apakah boleh saya memotret ikan di kolam?” lalu saya terdiam, memikirkan bahwa gawai Akmal akan basah kalau saya izinkan dia melakukan keinginannya.

Setelah itu Akmal memanggil saya dan saya lihat bahwa Akmal memasukkan gawainya ke dalam plastik dan beginilah hasil dari cekrak-cekrek di kolam ikan itu…

Medan, 2024

*esai ini telah dipamerkan Indonesia Photo Fair [ditaja-kelola Sekelak Foto] di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Selatan.

Need Service? Call Us