33.1 C
Medan
Minggu, 3 Mei 2026
Beranda blog Halaman 4

HEALING – Oleh Ms Mega

Namaku Mega. Aku sudah menjadi guru selama hampir lima tahun, dan jujur ini bukan pekerjaan yang awalnya aku impikan. Dulu, cita-citaku jauh dari dunia pendidikan. Aku ingin jadi pekerja kantoran, konsultan lingkungan, bagian kesehatan ataupun berkutat dengan buku-buku terjemahan. Tapi, kehidupan seringkali memberi kejutan yang tak terduga. Sebelum lulus kuliah, aku terjebak dalam situasi di mana tawaran mengajar di sebuah sekolah menengah pertama datang padaku, dan tanpa terlalu banyak berpikir, aku menerimanya. Aku berpikir, “Kenapa tidak? Mungkin bisa buat sementara, sambil menunggu kesempatan lain.” Tapi, ternyata hidup memang suka bercanda. Apa yang awalnya cuma niat sementara, malah membawaku ke sebuah pengalaman yang ternyata mengubah hidupku. Dan di sinilah aku sekarang, lima tahun kemudian, masih berdiri di depan kelas, di sekolah dasar, menikmati setiap detiknya.

Awalnya, aku tidak berpikir bahwa mengajar bisa jadi sesuatu yang menyembuhkan. Aku selalu melihat pekerjaan ini sebagai sebuah kewajiban. Namun, perlahan-lahan, perspektifku mulai berubah. Aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat menenangkan dan memulihkan dalam mengajar.

Ketika pertama kali masuk ke kelas sebagai guru, aku merasa campur aduk antara gugup, canggung, dan antusias. Anak-anak di depan mata begitu ceria, penuh energi, dan entah bagaimana caranya selalu menemukan alasan untuk menggangguku. Mereka berlarian, berbicara, dan kadang-kadang bertanya hal-hal yang menurutku aneh. Bayangkan saja, pernah suatu hari seorang muridku, Ilham, bertanya, “Ms Mega, kenapa burung bisa terbang, tapi ikan nggak?” Aku sampai bengong sejenak. Itu pertanyaan yang sederhana tapi entah kenapa sulit dijawab dengan cara yang bisa dimengerti oleh anak umur 6 tahun.

Namun, seiring waktu, aku mulai menikmati dinamika di kelas. Aku mulai memahami setiap karakter anak-anak. Ada Ilham yang selalu penasaran, sering bertanya hal-hal aneh, tapi ia adalah anak yang punya rasa ingin tahu luar biasa. Lalu ada Nisa, yang pendiam tapi sangat cerdas, sering kali menyelesaikan tugas sebelum aku selesai menjelaskan. Setiap anak punya keunikan yang membuat mereka begitu spesial di mataku.

Di balik keceriaan anak-anak, aku sadar ada banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka. Mereka mengajarkanku tentang kesederhanaan, tentang bagaimana hal-hal kecil bisa membuat bahagia. Ketika aku sedang merasa lelah atau sedih, senyuman tulus mereka, canda tawa di kelas, dan tanya jawab yang kadang konyol, semua itu seperti memberikan energi baru. Aku merasa bahwa saat aku mengajar mereka, sebenarnya aku juga sedang belajar dan sembuh.

Tidak jarang, sebagai orang dewasa, kita terjebak dalam perasaan tertekan. Tuntutan hidup, masalah pribadi, atau bahkan rasa kesepian sering kali menghantui. Sebelum menjadi guru, aku juga sering merasa demikian. Kadang, rutinitas membuatku merasa hampa, seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Namun, ketika aku mulai mengajar, perlahan-lahan perasaan itu berubah.

Mengajar membuatku merasa dibutuhkan. Setiap pagi, saat aku masuk kelas dan melihat wajah-wajah mungil penuh antusias, ada perasaan hangat yang menyelimuti hatiku. Mereka menunggu bimbinganku, dan itu membuatku merasa bahwa aku berperan penting dalam kehidupan mereka. Setiap kali seorang murid berhasil memahami pelajaran atau menunjukkan perkembangan, ada kepuasan batin yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya seperti ada celah dalam hatiku yang tertutup secara perlahan.

Ada satu momen yang benar-benar membuatku yakin bahwa mengajar adalah healing terbaik bagiku. Suatu hari, aku sedang mengalami masalah pribadi yang cukup berat. Aku ingat, pagi itu aku datang ke sekolah dengan hati yang berat, dan pikiran yang kacau. Aku hampir tidak punya tenaga untuk tersenyum, apalagi mengajar. Namun, di tengah pelajaran, seorang muridku, Cherish, tiba-tiba memberikan bunga kertas yang ia buat sendiri. “Ini untuk Ms, biar Ms senyum lagi,” katanya dengan polos.

Aku terdiam sejenak. Bunga kertas yang sederhana itu, yang dibuat dengan tangan mungilnya, tiba-tiba membuatku merasa sangat terharu. Di situ aku menyadari, bahwa terkadang, penyembuhan datang dari hal-hal kecil yang tidak kita duga. Dari perhatian tulus seorang anak, dari interaksi sederhana yang sering kali kita anggap remeh.

Sebagai guru, kita sering kali berpikir bahwa kitalah yang akan memberikan pelajaran kepada anak-anak. Namun, sebaliknya, justru sering kali kita yang belajar banyak dari mereka. Anak-anak memiliki cara yang sangat unik dalam melihat dunia. Mereka tidak terjebak dalam rumitnya kehidupan seperti orang dewasa. Mereka hidup di momen sekarang, menikmati setiap detik dengan sepenuh hati, dan selalu punya cara untuk melihat sisi positif dari segala sesuatu.

Dari mereka, aku belajar untuk lebih sabar. Ada hari-hari di mana aku harus mengulangi penjelasan yang sama berkali-kali. Ada saat-saat di mana aku harus menghadapi anak yang keras kepala dan sulit diatur. Namun, dari setiap tantangan itu, aku justru belajar bagaimana mengelola emosiku. Aku belajar bahwa terkadang, cara terbaik untuk mengatasi masalah adalah dengan melembutkan hati, bukan mengeraskannya.

Mengajar juga mengajarkanku tentang rasa syukur. Anak-anak sering kali merasa sangat bahagia dengan hal-hal sederhana. Mereka bisa tertawa hanya karena berhasil menyelesaikan soal matematika, atau merasa bangga karena berhasil menggambar sesuatu yang menurut mereka indah. Dari mereka, aku belajar untuk lebih menghargai pencapaian kecil dalam hidupku.

Sekarang, setelah hampir lima tahun mengajar, aku bisa mengatakan dengan yakin bahwa mengajar adalah salah satu bentuk healing terbaik. Setiap kali aku merasa stres, atau sedang menghadapi masalah, masuk ke kelas dan berinteraksi dengan murid-muridku selalu menjadi pelipur lara. Melihat perkembangan mereka, tawa mereka, dan bahkan mendengar celotehan lucu mereka, semua itu selalu memberikan energi positif yang menyembuhkan.

Mengajar mengajarkanku untuk lebih banyak bersabar, lebih banyak bersyukur, dan lebih banyak memberi. Dan di balik semua itu, aku mendapatkan penyembuhan untuk diriku sendiri. Siapa sangka, pekerjaan yang dulu aku anggap sementara, kini menjadi salah satu hal yang paling berarti dalam hidupku. Dan aku rasa, dalam mengajar, aku menemukan jalan untuk menyembuhkan luka-luka kecil dalam hatiku, dan merasakan kebahagiaan yang tulus.

Jadi, jika ada yang bertanya, apakah mengajar itu melelahkan? Tentu saja, ada kalanya sangat melelahkan. Tapi, di saat yang sama, mengajar juga sangat menyembuhkan. Itu adalah healing terbaik dan terhemat yang pernah aku temukan.

Tahun Pertama Menjadi Guru Islamika – oleh Ms Aulia

Tahun Pertama Menjadi Guru Islamika – oleh Ms Aulia

“Ul, kamu tahun ajaran depan gabung ke SMP, ya”

Sejak mendengar kalimat itu, terlintas beberapa kekhawatiran. Menjadi guru SD tidak mudah, apalagi menjadi guru SMP. Sepertinya butuh effort. Effort yang lebih dari sekedar mengawal adab siswa, namun effort masuk ke dunia remaja dan menjadi remaja, serta mengenal batas guru-siswa. Di sisi lain, ini adalah tantangan baru dalam hidup saya yang membuat saya antusias. Kapanlagi mendapat wadah untuk mencoba selagi masih tweenty’s. Sebelum melanjutkan pilihan, ridha kedua orangtua adalah prioritas saya. Allah meridhoi dan orangtua saya juga meridhoi, bismillah saya setuju menjadi bagian dari tim SMP.

Sejak dua tahun lalu saya menjadi guru SD, guru SMP lebih akrab di pikiran saya dengan sebutan tim: jumlah mereka terbatas, terlihat kompak dan layaknya tim yang mendirikan proyek bersama. Terlihat lebih fleksibel namun saat itu saya tidak tertarik. Mengkaji ulang bahwa tahun ajaran depan saya akan menjadi bagian dari tim itu, saya mulai menata diri. 

Tim SMP terbentuk setelah melalui RKT dan segala bentuk rapat yang panjang. Dengan jumlah guru yang saat itu hanya 6, kami memilih dan memilah jobdesk, terutama guru mata pelajaran. Dengan penampilan saya saat ini, memang meyakinkan semua orang untuk ikut andil menjadi guru islamika. Namun, itu hanya penilaian luar mereka saja. Jauh dalam diri saya, masa remaja saat ini dikelilingi dengan hingar bingar informasi yang mengubah akidah. Bahkan tak jarang, itu menjadi trending topik. Pikiran kalut dan kacau mulai datang: “gimana, ya, jadi guru islamika yang gak menekan namun menyadarkan?” “Nanti juga bisa, lihat ombaknya dulu.” Pertanyaan dan pernyataan terus mengusik sebelum hari H pembelajaran. 

Tibalah hari H pembelajaran. Islamika dimulai dari materi tauhid rububiyah: mengajarkan dan melihat bukti sekeliling bahwa pencipta hanyalah satu. Sekilas, terlihat mudah. Namun yang ‘diperangi’ bukanlah mempercayai bahwa tuhan hanya ada satu, tetapi bagaimana praktisi tuhan hanya satu itu terlaksana dalam perilaku mereka. Dewasa ini, mempercayai tuhan hanya satu sudah menjadi hal yang pasti, namun beberapa penerapan tidak seperti itu. Contohnya sebagian masyarakat masih merasa perlu mengucapkan salam saat berada di tengah hutan dengan pohon yang tinggi. “Permisi, ya, aku numpang lewat aja. Jangan ganggu, ya” Bukan kita yang memulai hal ini, namun sebagian dari kita masih melakukannya. Saya membawakan hal ini sebagai contoh dalam penerapan tauhid rububiyah, dan ternyata benar, tidak hanya satu siswa yang mengatakan mereka pernah melakukannya, namun hampir 10 dari 20 siswa yang mana 10 lainnya bisa jadi merasa telah diwakilkan. Inilah PR saya selaku guru islamika. Beberapa contoh lain juga saya bawakan, seperti tragedi di Palu yang berawal dari perilaku warga setempat menghidangkan makanan bagi laut agar laut tidak marah dan selalu menyediakan makanan bagi mereka. Kemarahan Allah pun datang, bencana terjadi dengan catatan peristiwa relawan yang tidak mudah mendatangi lokasi kejadian. Hal yang sama terjadi di area lombok, saat para penduduknya tidak berusaha mengingatkan pendatang untuk tidak melakukan seks bebas di area terbuka, bencana Allah pun datang dan warga kesulitan mendapat pangan dan pakan dalam kurun waktu dua minggu pasca bencana. 

Diskusi dan pertanyaan pun mengalir dengan seru, beragam pertanyaan menarik yang berisi pembenaran atau kesalahan atas hal yang telah dilakukan menjadi topik seru untuk didengar. Tak jarang, sebagian mereka ikut menjawab. Terbitlah pertanyaan mengenai khodam. Yah, hal itu sangat tenar belakangan ini; masuk ke siaran langsung orang tertentu untuk melakukan pengecekan mengenai khodam. Khodam dikenal sebagai penjaga yang berbentuk gaib, bisa jadi hewan atau jin. Tak jarang, khodam berasal dari benda-benda aneh; sendal jepit, kaos kaki, gayung, dan lain sebagainya. Aneh sekali. Lebih anehnya lagi, tidak sedikit yang mempercayainya. Bagaimana lah sendal jepit atau kaos kaki dapat menjaga dari marabahaya? Naudzubillah. Namun, bukan itu topik utamanya. 

Sekilas, jika disebut menyembah patung atau berhala sangatlah syirik, lain dengan khodam , tidak disebut syirik oleh sebagian masyarakat. Padahal, ia satu jenis: mempercayai adanya pencipta selain Allah. Jika saya menjelaskan dengan cara ‘masa’ kaos kaki bisa ngelindungi kamu, bang’, kemungkinan pertanyaan berikutnya tentang khodam singa atau harimau yang memang cenderung lebih dipercaya bisa melindungi dibandingkan kaos kaki atau sandal jepit. Bukan, sesungguhnya bukan ini. Poin pentingnya adalah mempercayai adanya pelindung selain Allah. Jika mempercayai Allah sebagai satu-satunya tuhan, sudah sepantasnya kita berharap perlindungan kepada tuhan kita, Allah semata. Layaknya percaya kepada seorang teman, dia akan merasa dikhianati saat temannya meminta bantuan kepada teman lain disaat teman tersebut dapat membantunya. Layaknya anak dan orangtua, disaat orangtua mampu memberinya rumah namun ia memilih rumah keluarga lain. Permisalan tersebut alhamdulillah dapat diterima dan menjadi penutup kelas hari itu. Sesaat hendak menutup kelas, salah seorang siswa bertanya, “Ms, dari tadi bahas Allah, Allah itu dimana-mana ya Ms?” Wah, seru banget pertanyaannya bang. Tapi waktu Ms habis, kita lanjutkan pertemuan berikutnya, ya.” Sayang sekali, pertanyaan ini memang membuka ruang kejelasan tauhid rububiyah kedepannya. 

Hari berlalu, materi islamika di tingkat berikutnya masih seputar akidah: materi Wala dan Bara’. Tak sering memang pembelajaran ini disampaikan, namun nyatanya ini sangat diperlukan. Setelah penyampaian materi Wala dan Bara’, tersebar info bahwa imam masjid istiqlal mencium kepala paus yang datang ke Indonesia. “Pas banget”, ucapku tengah malam itu sembari melihat cuitan di twitter. Contoh wala’ dan bara yang sudah saya berikan diantaranya sifat mudahanah dan mudarah. Mudahanah adalah sifat berpura-pura untuk kepentingan pribadi. Seperti contoh tidak menggunakan jilbab agar diterima oleh masyarakat banyak, menghalalkan khamar saat pesta agar tidak disebut si cupu, dan sebagainya. Mudarah adalah berlemah-lembut. Menolak ajakan yang tidak diperbolehkan dengan tutur kata yang lembut. Seperti saat diajak merokok atau pacaran atau HTS-an. Topik HTS ini yang menggelitik mereka. Ada yang mencari pandangan, ada yang menghindari pandangan. Rasanya ingin menggali lebih dalam, namun ini adalah pertemuan pertama. Menghindari menjadi guru yang saklek, saya memilih menasehati dengan lembut. Pembahasan pun beralih ke topik hubungan tanpa status. Mulai dari alasan kenapa itu dilarang, chatting dengan lawan jenis sampai sejauh mana sih batasannya, hingga persoalan seputar tarian tik tok (entah bagaimana topik ini keluar dengan sendirinya) kami bincangkan. Pembelajaran berlangsung diskusi hingga akhir waktu. 

Ternyata, akhir-akhir ini saya menyadari mereka menyukai pembelajaran dengan tema diskusi, entah itu menyangkut pembelajaran saat itu ataupun masalah yang sedang terjadi dan trending di platform media sosial. Saya kembali mengingatkan diri saya sendiri, terkadang pembahasan yang mereka angkat berisi keingintahuan mereka tentang ajaran islam didalamnya namun terkadang (saya berpendapat) juga sebagai bentuk peralihan pembelajaran yang akan disampaikan. Cerdas dan cerdik memang. 

MISTERI ABJAD – oleh Ms Lia

oleh Ms Lia

Cerita Seorang Guru Matematika –

Matematika menjadi mata pelajaran yang menyenangkan jika dikemas dengan metode yang menarik. Saat ini masuk ke dalam katagori MAFIA (Matematika, Fisika dan Kimia). Mungkin di sekian siswa saya hanya sedikit yang tertarik dengan matematika. Oleh karena itu biasanya pertemuan pertama  saya kerap kali memberikan mereka assesmen dignostik yaitu asesmen yang diberikan di awal  pertemuan. Bentuk variasi dari asesmen diagnostik itu banyak, biasanya saya memberikan  peta pikiran “Bismillah”. Itu saya lakukan untuk mengetahui seberapa mereka menyukai mata pelajaran matematika. Kadang tak jarang saya menemukan banyak di antara mereka yang belum tuntas dengan konsep dasar matematika. Bahkan masih ada yang belum hafal perkalian  ataupun pembagian. Nah sebagai guru matematika  Saya berpikir bagaimana caranya agar mereka menyukai matematika. Karena itu saya mengolah tes formatif menjadi metode gim.

Saya mengajar di kelas 9, materi pelajaran yang pertama yang saya ajarkan adalah eksponen. Nah baru dengar kata eksponen saja sudah puyeng kan? Nah di eksponen ini pada pertemuan 1-4 saya menjelaskan kepada siswa dengan  menggunakan Quizizz.  Tapi kali ini saya tak  akan bicara tentang quizizz, karena Insya Allah quizizz akan diceritakan  pada cerita selanjutnya. Nah setelah saya menerangkan dengan metode quizzizz saatnya saya mengajar mereka untuk bermain “Misteri Abjad”. Nah kira-kira apa itu misteri abjad?. Sebenarnya awalnya saya bingung mau memberi nama apa pada metode ini tapi karena siswa diajak untuk memecahkan petunjuk  yang ada pada abjad yang sudah diacak-acak jadinya saya namakan menjadi misteri abjad.

Pertama,  saya harus mencari tempat-tempat di sekolah yang bisa  saya masukkan kepada misteri abjad. Karena SMP saat ini sedang tahap pembelajaran bahasa inggris akhirnya saya menemukan beberapa pilihan tempat yaitu:

  1. Teacher Room
  2. Security
  3. Sail Mart
  4. Library

Kata kuncinya itu tempatnya terdiri minimal dari minimal 6 huruf. Karena jumlah soal ditentukan dari jumlah huruf, dari beberapa tempat diatas kemudian  saya rancang menjadi misteri abjad.

Kedua, saya harus mencari soal-soal tentang eksponen beserta jawabannya karena assessmen formatif kali ini dengan metode menjodohkan pertanyaan dan jawaban. Jadi  saya harus menuliskan  35 soal beserta jawaban untuk saya tuliskan di misteri abjad.

Ketiga,  syarat supaya terpecahkan nama tempat dari misteri abjad siswa harus melingkari huruf yang dilalui oleh 2 garis. Kemudian huruf-huruf tersebut disusun menjadi nama sebuah tempat, nama tempat  tersebut terdapat soal-soal lanjutan. Nah pada kali ini siswa harus menyelesaikan 4 misteri abjad yang di dalamnya terdapat soal-soal tentang eksponen.

Keempat, setelah saya sudah membuat misteri abjadnya, saya membagi siswa menjadi 10 kelompok. Misteri abjad ini diselesaikan oleh 2 orang artinya mereka menyelesaikannya secara berpasangan.

Berikut gambar misteri abjad tentang materi eksponen:

Gambar 1

Pada gambar 1 perhatikan huruf huruf pada garis yang  dilaui 2 garis, ketika disusun akan menjadi kata SAIL MART.

Gambar 2

Pada gambar 2,  perhatikan huruf-huruf pada garis yang  dilaui 2 garis, ketika disusun akan menjadi kata TEACHER ROOM.

Gambar 3

Pada gambar 3,  perhatikan  huruf-huruf  pada garis yang  dilaui 2 garis, ketika disusun akan menjadi kata LIBRARY.

Gambar 4

Pada gambar 4,  perhatikan huruf huruf pada garis yang  dilaui 2 garis, ketika disusun akan menjadi kata SECURITY.

Nah dengan misteri abjad ini saya ajak siswa untuk berpikir kritis memecahkan misteri yang ada di lembar  yang mereka dapatkan. selain itu ini melatih kerjasama dan ketelitian mereka. Awalnya mereka bingung ketika mendapat kertas yang isinya abjad yang tidak beraturan tapi setelah memahami intruksinya mereka mampu memecahkannnya. Bagi siswa yang tidak mengikuti prosedur maka akan kesulitan dalam memecahkan permasalahannya. Sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan  persoalannya sampai akhir.

Dengan misteri abjad ini bisa membuat matematika tidak semenyeramkan yang dibayangkan. Karena siswa akan diajak berpetualang di luar kelas sehingga  matematika tidak hanya bisa dilakukan di dalam ruangan  tetapi juga di luar lingkungan. Berikut adalah moment siswa menyelesaikan misteri abjad dengan kelompoknya.

Matematika itu bisa menjadi pelajaran yang menyenangkan dan mengasyikkan, jika kita menggunakan metode yang membuat siswa tertarik untuk mempelajarinya.

Gambar 5                     Gambar 6

 

 

 

 

Semalam Menginap di Sekolah (SMS): Membentuk Kemandirian dan Karakter Siswa Kelas 1 dan 2 SD

28 Januari 2024

Dalam rangka mengembangkan potensi dan kemandirian siswa, Sekolah Azzakiyah Islamic Leadership menyelenggarakan program “Semalam Menginap di Sekolah” (SMS) pada tanggal 25-26 Januari 2024. Kegiatan ini diikuti dengan antusiasme tinggi oleh peserta kelas 1 dan 2 SD.

SMS dirancang untuk membentuk hubungan sosial, mengembangkan kemandirian, memperkenalkan nilai-nilai kepedulian dan kerjasama, meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri, serta menerapkan disiplin. Peserta dibimbing melalui serangkaian kegiatan edukatif yang dirancang untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan mendalam.

Selain itu SMS juga memasukan muatan manajemen diri termasuk pengenalan diri, penyusunan jadwal harian, higiene pribadi, pola tidur dan istirahat, penyimpanan barang-barang pribadi, penanganan emosi, pertemanan dan komunikasi, keamanan pribadi, pengembangan keterampilan sosial, dan kemandirian di sekolah.

Sejalan dengan tujuan kurikulum merdeka, kegiatan SMS mengintegrasikan pembelajaran multidisiplin: matematika, bahasa indonesia, ilmu pengetahuan alam, pendidikan jasmani dan yang utama adalah penerapan adab, Fiqih Ibadah dan penguatan Al Qur’an.

Orangtua juga dilibatkan dengan mendapatkan pembekalan khusus. Mereka didorong untuk mendukung anak dalam persiapan kegiatan menginap, memberikan dukungan emosional, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk berbicara tentang perasaan mereka.

Dukungan Positif dari Orangtua:

  1. Membantu menyiapkan perlengkapan yang diperlukan.
  2. Menjelaskan bahwa kegiatan menginap adalah pengalaman belajar yang positif.
  3. Bertanya kepada anak tentang kegiatan yang akan dilakukan dan memberikan pemahaman positif tentang pengalaman tersebut.
  4. Memberikan kesempatan kepada anak untuk berbicara tentang perasaan mereka dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
  5. Menghindari menunjukkan kekhawatiran berlebihan.
  6. Hindari memberikan informasi yang dapat menyebabkan kecemasan atau kekhawatiran yang tidak perlu pada anak.
  7. Menghindari membandingkan anak dengan anak lain atau menekankan perbandingan prestasi.
  8. Menghindari menyalahkan atau memarahi anak jika mereka merasa cemas atau memiliki kekhawatiran. Berikan dukungan dan pemahaman.

SMS bukan hanya sekedar kegiatan menginap, melainkan sebuah langkah konkret dalam mendukung pendidikan holistik dan pembentukan karakter anak. Dengan melibatkan siswa dan orangtua, SMS diharapkan menjadi momen berharga yang memberikan dampak positif jangka panjang bagi perkembangan siswa.

Need Service? Call Us