33.1 C
Medan
Minggu, 3 Mei 2026
Beranda blog Halaman 10

Finlandia; tidak ada PR, benarkah?

Bincang Pendidikan Vol.3 By : Indah Hendrasari

“Finlandia : TANPA PR, Benarkah?”

Sebelum berangkat ke Finlandia, Saya punya segudang mitos tentang Finlandia. Termasuk salah satunya adalah kabar bahwa di Finlandia tidak ada PR. Saya tidak ada pikiran apa-apa karena saya membayangkan pastinya ada project pengganti PR ini, karena jika sekolah hanya sebentar, sedangkan target sekolah tinggi, maka PR akan menjadi hal yang tidak terelakkan. Akan tetapi, karena kadung populer mitos yang beredar di tanah air tentang Finlandia yang tidak ada PR, bahkan kabarnya karena ketiadaan PR ini membuat sistem pendidikan Finlandia menjadi yang terbaik,

Maka saya pun penasaran, bagaimana cara mereka mengelola ini. Dan tepat seperti perkiraan anda, Saya serasa kena ZONK saat mengetahui ternyata di Finlandia ada PR.

Persekolahan mereka masih memakai PR, persis PR di Indonesia yaitu mengerjakan soal. Tapi ada juga PR yang berupa project, itu sangat bergantung bagaimana pelajaran itu sendiri. Jadi tidak usah heran kalau mendapati anak Finlandia mengerjakan segempok PR di suatu waktu atau mendapati mereka kolaborasi dengan kawannya mengerjakan project bersama (kalau disini seperti kerja kelompok begitu),

Yang bikin kagum adalah siswa dan orangtua tidak memandang PR ini momok yang mengerikan ataupun sebagai beban yang harus di perdebatkan pagi sampe sore,ngalah2in debat pilpres. Bahkan sampai menghasilkan dua kubu yaitu kubu PR serta kubu non PR.

Anak merasa PR adalah kebutuhannya, orangtua memahami PR salah satu mekanisme guru membantu anaknya menguasai pelajaran. Sungguh suatu hubungan positif yang nyaman sekali.

Pemahaman bahwa tugas anak adalah tanggung jawab anak sudah diberikan sejak anak usia 1 tahun. Jika Anda adalah orangtua pekerja dan memasukkan anak Anda ke daycare, maka daycare Finlandia biasa melatih anak melakukan semua tugas anak sebagai tanggung jawab pribadi anak. Jangan bermimpi anak Anda bakal dilayanin kayak daycare disini, anak Anda akan mengerjakan semua sendiri tanpa di bantu. Kebayang kalau di Indonesia PAUD nya lakukan ini, contoh kecilnya pakai sepatu sendiri, yang gurunya sudah susah payah mengajak anak siap sedia tapi karena orangtua telat jemput atau karena anak mau ke kamar mandi hingga lepas sepatu, nah saat orangtua datang maka harus menunggu kembali anaknya pakai sepatu sendiri, maka orangtua ada yang sabar dan banyak yang ngamuk-ngamuk,Karena merasa waktunya hilang, padahal harusnya guru juga ngamuk, karena guru harus pulang larut sebab nambah jam kerja di sebabkan melatih kemandirian anak, tapi disini sejak kapan sih sisi guru juga di prioritaskan?  Semoga waktu itu tiba….

Membentuk rutinitas harian itu adalah gaya umum pendidikan anak Finlandia, baik guru maupun orangtua sepakat bahwa rutinitas belajar anak harus dibangun. Mereka sangat menyukai kestabilan dan keteraturan. Siswa Finlandia terbiasa dengan PR bahkan dari kelas 1 SD, jumlah PR dan muatan PR nya sangat bergantung terhadap progress anak, jadi guru Finlandia itu membuat PR bukan karena mereka tak sempat mengajar atau pun agar dianggap belajar dengan PR, melainkan PR sebagai ajang penguat saja karena sifatnya pengulangan, serta frekuensi pemberian PR pun beragam tergantung dari kebutuhan siswa. Jadi ada yang dapat PR mungkin segepok, ada yang tidak, tergantung KEBUTUHAN ANAK. Serta rata-rata PR anak sudah tahu cara mengerjakannya, jadi tidak terlalu merepotkan serta mudah dikerjakan. Permasalahan PR baru akan terasa jika anak belum bisa membaca, hingga akan membuat Orangtua membacakan untuk anak. Tapi kasus ini jarang terjadi, dari yang saya dapati dari sharing dengan Kepala Sekolah TK disana (Saya dapatnya lokasi Helsinky bisa jadi di sekolah Finlandia lainnya tidak sama, karena metode pembelajaran Finlandia ini tergantung zona dan misi sekolahnya), rata – rata anak mereka sudah bisa membaca sebelum masuk SD, adanya kelas persiapan satu tahun, sebab Finlandia ketat soal umur masuk sekolah.

7 tahun adalah angka yang tidak bisa ditawar, tidak akan ada solusi surat keterangan matang atau tidak matang dari psikolog. Karena rata-rata anak selepas TK sudah matang bersekolah, sebab Finlandia bukan hanya membangun sekolah tetapi membangun pendidikan. Saya yakin pastinya anda mulai mengira-ngira PR seperti apa yang diberikan kepada anak-anak kelas rendah ini?

PR Membaca, yup beneran karena tujuan PR diusia awal sekolah ini adalah anak lancar membaca dan suka membaca, maka karena itu meski di TK anak sudah bisa membaca, mereka di minta untuk mengulang membaca buku yang ditentukan atau pilih sendiri, dengan keterangan dan tandatangan Orangtua bahwa anaknya sudah membaca hari itu. Selain PR membaca ada juga PR seperti layaknya LKS atau workbook, pengerjaan ini sih bukan cuman dari SD kelas 1, anak – anak usia dini disana pun biasa saja mengerjakan woorkbook tanpa takut dicap gegas anak. Bahkan agar anak semangat mengerjakan workbook, para Guru tak segan memberikan reward kepada anak seperti memberikannya main ipad (yang isinya games edukatif, Finlandia memang memaparkan anak-anak dengan gadget sejak usia dini, sebab ada kompetensi ICT yang terangkum dalam kurikulum Finlandia). Tapi jangan mikir kejauhan ya, karena mendidik gaya Finlandia itu simple dan mendasar tapi sangat bertanggung jawab, menurut opini saya inilah menangnya mereka, dan ini ada step by stepnya,  tidak serta merta,

Ada prosedur ketat juga dalam penerapannya (karena kasus reward ini jika tidak mengikuti kaidah bisa malah “membunuh” alih-alih “motivasi”). Oia sekolah di Finlandia memakai zonasi, jadi anak – anak sekolah dekat dari rumah, mereka pulang pergi jalan kaki sendiri tanpa antar jemput, kebayang zaman kita dahulu sekolah pergi sekolah dekat rumah jalan kaki bareng kawan-kawan, begitu deh pemandangan disana, maka anak-anak berada sendirian di rumah setelah pulang sekolah (sebab orangtua bekerja) menjadi hal umum disana. Karena mereka pulang sekolah sendiri bareng kawan – kawan, maka terkadang mereka mengerjakan PR bersama sepulang sekolah, sebab teman sekolah juga teman dekat rumah, hmmm jadi rindu masa kecil dulu….

Maka apa yang di lakukan Orangtua terhadap PR anak?
Orangtua menguatkan apa yang sudah sekolah sampaikan bahwa PR adalah tugas anak, tanggung jawab anak bukan Orang tua. Karena itu fungsi Orang tua sebagai fasilitator dan pengawas saja, sangat dianjurkan tidak ikut membantu anak mengerjakan tugasnya. Lalu bagaimana jika anak kesulitan memahami materi pelajaran, sedangkan Orangtua tidak membantu?

Inilah kerennya Finlandia.
bener-bener SATU NEGARA yang MENGURUS ANAK, disana ada banyak tenaga sosial yang siap membantu anak-anak berkembang. Tentang masalah PR aja, biasanya ada semacam club belajar berisi para Volunteer yang siap membantu anak, uniknya para Volunteer ini bukan saja orang dewasa melainkan ada juga remaja. Keren kan mereka mengasah jiwa berkomunitas itu memang dari kecil, tanpa ribet….

Lalu bagaimana kita di Indonesia.
Kalau anak tidak paham bagaimana bisa kita tidak membantu?
Saya ada beberapa ide, tapi sebelumnya ijinkan saya mendengar ide anda yang telah membaca ini. Seketika saya teringat dengan sistem pendidikan Islam yang melahirkan orang – orang hebat, mereka ditempah dengan lelahnya belajar. Adab penuntut ilmu yang menghargai guru, serta menyadari bahwa belajar adalah tanggung jawab pribadi bukan tanggung jawab orangtua ataupun orang lain. Seketika sekelebat nasehat Imam Asy Syafi’i terlintas dibenak saya.

“Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya, maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya. Demi Allah, hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.”

Bincang Pendidikan Vol.3
By Indah Hendrasari

#inspirasi_indah
#bincangpendidikan
#Finlandia
#SekolahtanpaPR
#lelahbelajar

Ada Apa dengan Guru Finlandia

Baiklah kita lanjut lagi ya ngulik tentang Finlandia

Kalau sebelumnya kita sudah memahami bagaimana cara Finlandia membuat sistem pendidikan yang unik (Sekolah santai, Target tinggi), kini giliran guru – guru Finlandia yang jadi bahasan tema kita.

Eits saya tidak akan bahas cerita guru Finland itu minimal lulusan Master. Untuk bisa tembus masuk jurusan keguruan Anda harus bersaing dengan ratusan ribu orang dikarenakan jumlah keguruan di Finlandia itu terbatas. Guru disana hari – hari nya selalu melakukan penelitian. Anda jadi mahasiswa keguruan jangan harap bisa bertahan kalau tidak suka meneliti dan menulis, juga saya tidak akan membicarakan bahwa guru merupakan salah satu profesi bergengsi disana ya, kalau hal ini mah sudah banyak yang bahas. Tetapi saya mau gali dari sisi lainnya. (khas saya gali dari sisi yang tidak umum orang gali )

Yaitu bagaimana cara para guru Finlandia ini bisa membuat Target Pembelajaran mereka tuntas..

Anda tidak usah bengong begitu, saya yang pertama datang ke Finlandia juga terkejut saat mengetahui bahwa di Finlandia juga harus ada ketuntasan minimal, meski mereka bungkus dengan istilah lain. Tapi jangan pikir cara mereka mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) itu sama kayak kita di sini ya, jauh panggang dari api lah.

seperti di tulisan sebelumnya bahwa Finlandia itu punya target pembelajaran tinggi, hanya saja mereka tak akan memberikan beban berat itu sekaligus ke pundak siswa mereka. Hebatnya dari guru Finlandia, mereka membuat beban berat itu menjadi ringan dan cara mereka melakukan ini sangat didukung penuh oleh orang tua Finlandia. Makanya hampir tidak ada orangtua yang ribut karena merasa materi pembelajaran anaknya terlalu ringan. Karena mereka tahu bahwa guru anaknya punya sistematika sendiri dalam mengajar anaknya, dan itu dihargai. Bahkan negara memberikan kebebasan kepada setiap sekolah untuk membuat sistem sendiri yang sesuai dengan visi misi sekolahnya. Negara hanya memastikan setiap sekolah mengikuti grand plan kurikulum saja. Maka tak heran kurikulum setiap sekolah bisa beda-beda tergantung tujuan sekolah itu didirikan serta kebutuhan Siswa di sekolah itu, tetapi tetap dalam Frame Work Pendidikan Nasional yang sama.

Oke kita balik lagi ke tema, Saat di suruh memilih masuk ke kelas mana, maka saya memilih masuk kelas lower. Karena untuk kelas Upper saya akan mewawancarai anak – anak nya saja biar lebih nyata. Untuk anak – anak SD saya memilih mengobrol langsung dengan Kepala sekolah, guru –guru dan orangtua siswa. dan untuk SD informasi yang saya dapat komplit karena saya masuk juga ke kelas nya.

Di Finlandia tidak usah bingung jika ada satu ruangan untuk ngopi bareng  yang mana ruangan itu akan berisi para guru (yang sedang tidak mengajar), orangtua (baik yang sengaja datang maupun kebetulan berkunjung, termasuk Orangtua alumni),  serta para praktisi untuk ngobrolin perkembangan apapun. Apakah itu perkembangan diri, hobi, bikin acara bareng,kekeluargaan banget lah. Tapi jangan bayangi Anda bisa nanya-nanya perkembangan anak Anda disini ya. Guru Finland tak akan melayani Anda, mereka menyediakan waktu khusus jika Anda mau membahas perkembangan anak Anda. Tapi kalau bahas perkembangan pendidikan atau pun kemajuan teknologi, inspirasi kehidupan Anda bakal disambut hangat (ingat di Finlandia guru adalah profesi, emang Anda bisa nanya-nanya perkembangan penyakit anak Anda kepada dokter anak Anda di tempat umum bukan di ruang konsul?)

Butuh satu negara untuk mendidik seorang anak bukan hanya jargon kosong di Finlandia. Mereka komitmen melakukan itu, hingga tugas Guru itu sangat – sangat fokus hanya mencari metode pengajaran terbaik untuk siswa nya. Menjadi guru di Finland rasanya profesi syurgawi bagi orang yang sangat concern di dunia pendidikan, karena memang di dukung dan di apresiasi.

Teringat negaraku. saat Covid melanda, bukannya saling bergandengan tangan tapi ramai – ramai banyak pihak yang menyudutkan sekolah. bahkan para pemangku kebijakan pun menyiratkan sikap mengkerdilkan maksud sekolah, ahhhh entahlah…

Seperti yang saya singgung di postingan sebelum ini, bagi yang belum baca silahkan klik di sini

Finlandia menerapkan kelas damai, dimana semua elemen sekolah  (tidak hanya Guru)  wajib membuat kelas menjadi damai. Makna damai disini beneran damai yaitu sangat tenang. Tidak terburu-buru melakukan kegiatan. Beda banget dengan Indonesia yang banyak menerapkan gaya belajar yang terlalu berisik.

Jika selama ini kita mengenal istilah Active Learning, maka Finlandia juga menerapkannya hanya saja penerapannya berbeda. Secara panduan active learning kita American Style, dimana guru diminta sedikit bicara dan mengajak anak-anak untuk aktif berinteraksi dan berpendapat (dimana kita dapati kelas – kelas riuh karena anak-anak saling berbicara untuk mengolah informasi materi).

Finlandia menerapkan Active Learning dengan cara yang tenang tapi merdeka. Anda tak bisa asal menyela guru sampai diijinkan bicara.  Ada adab penuntut ilmu di situ, jika Anda penganut bahwa hubungan guru dan siswa itu harus bebas (baca bablas) maka Anda akan kecewa kalau ke Finlandia. Karena Finlandia menganut hubungan hangat menghormati antara siswa dan guru. Active Learning ala Finlandia adalah anak belajar aktif dalam koridor tanggung jawab serta kemandirian pribadi. Jadi bukan asal aktif saja melainkan ada adab penuntut ilmu di situ. 

Kembali ke kelas yang damai, Finlandia sangat menyukai ketenangan. Karena mereka sadar bahwa kebahagian bisa di capai jika kita tenang menjalani hari. Oleh karena itu guru bisa menegur siswa yang tak menghargainya mengajar dan biasanya siswa tidak akan melakukan ini sebab ia tahu sikapnya yang tidak menghargai guru tidak bisa di terima di kultur budayanya. Lalu jika siswa tak boleh bising dalam hal menyerap informasi materi. bagaimana siswa bisa menyerap ilmu, bagaimana Thinking Skill bisa di asah? Itu juga yang menjadi pertanyaan saya.

Ternyata cara nya mudah saja..
Di kelas di sediakan sudut khusus  untuk siswa berdiskusi atau pun menuangkan ide, hingga tidak menganggu kawan-kawannya yang lain. Nah salah satu kunci keberhasilan dari kelas damai Finlandia adalah 2 bulan di awal itu saat mereka sama-sama menentukan apa, bagaimana, seperti apa ragam aktivitas, kenapa tentang kelas mereka. Di waktu 2 bulan itu mereka memahami garis-garis besar Study Plan mereka. bagaimana cara  mereka berkomunikasi, cara berinteraksi serta cara-cara mencapai solusi bersama jika ada masalah, bahkan mereka ada parameter kebisingan dan parameter masalah. Hingga dengan kewenangan yang sangat besar diberikan kepada guru. Membuat guru nyaman dan menjadi tuan atas pekerjaannya. Hasilnya manusia jika di apresiasi bagus, maka mereka akan melesat fokus untuk menggapai keberhasilan.

Beda jauh kalau kita lihat harga diri para guru di negara tercinta ini. Anggapan bahwa guru harus menyelesaikan semua masalah anak  sendirian, membuat anak berhasil sendirian, belum lagi setumpuk adminitrasi yang harus dikerjakan sendirian, ditambah gaji yang tak seberapa membuat mereka harus jungkir balik memikirkan kesejahteraan diri sendirian. Maka terbayang lah, manusia yang sudah lelah, lonely serta sedikit apresiasi ini berjuang menggarap project besar yaitu Mendidik Penerus Bangsa. Maka kira –kira seperti apa ya hasilnya.

Setiap kelas di Finlandia mempunyai mimpi kelas yang harus di wujudkan oleh semua elemen kelas termasuk  orangtua, jadi anggapan bahwa project anak biar saja anak yang jumpalitan sendiri atau mengambil alih semua project anak hingga jadi project total Orangtua, hampir tidak akan anda dapati di Finlandi. Sebab saat Sekolah menentukan sebuah program yang akan di ikuti anak – anak, contohnya Pentas Seni. Saat akan ada Pentas Seni maka tugas guru adalah bekerja sama dengan siswa untuk menghasilkan keputusan bersama. pentas seni seperti apa yang akan mereka tampilkan. Setelah didapat, maka orangtua akan diberitahu.

Nah disini keren nya, mereka akan lakukan hal – hal yang diperlukan untuk mensukseskan acara ini. Jika ternyata acara ini butuh biaya untuk menyelenggarakan nya sedangkan dana sekolah tidak meng-cover, maka para Orangtua akan bahu membahu menolong. Paling tidak membuka rekening donasi untuk acara ini. Tidak akan didapati orangtua yang menganggap sekolah duit-duit melulu. Karena mereka sadar bahwa memang itu yang di butuhkan sekolah. Padahal di Finlandia sekolahnya uang dari pemerintah. Pengelola tidak pusing memikirkan muter uang sekolahnya. 

Ya Allah saya tuh nyesek, kebayang di Indonesia jika ada program sekolah. Betapa banyak orangtua yang mengedepankan dzhon duluan dibanding support, yang mirisnya betapa banyak orangtua alih-alih mendukung malah menggugat sekolah yang minta di support.

Wah yang profesi nya Guru saya yakin saat ini sedang berkata “enaknya, begitu memang harusnya guru itu”, tapi….

Ini belum seberapa, di Finlandia Anda tidak akan mendapati guru yang mengantar anak – anaknya sampai keluar ruangan. ya anak –anak Finlandia terbiasa mandiri bahkan sejak usia dini, ini wajar mengingat kejahatan di Finlandia sangat minim. Saya terkejut saat masih gelap mendapati anak kecil jalan sendirian. Tidak terbayang kalau saya lakukan di Indonesia (yang pastinya tidak akan saya lakukan). Anak-anak sejak sedini mungkin merasa bertanggung jawab dengan diri mereka sendiri. Mereka tidak menggantungkan diri mereka pada orang lain termasuk pada guru mereka. ini pun akan membuat  guru punya waktu lebih untuk diri mereka. Guru punya waktu melakukan evaluasi dan perencanaan pembelajaran yang lebih terinci dan terdata.

 Ya… bagi Finlandia guru adalah profesi yang diakui keprofesionalannya. maka ada kode etik, ada apresiasi, juga ada dukungan terhadap profesi  ini. maka tak heran Pendidikan mereka maju pesat. Yang cukup unik dan mungkin akan membuat kita orang – orang Indonesia geleng- geleng adalah betapa tidak mudahnya orangtua menghubungi guru jika tidak melalui jalur sekolah.

Maka Anda jangan pernah berpikir bisa melakukan hal berikut disana :

  • Mendapatkan nomor telpon  guru dengan mudah.
  • Sekalipun Anda dapat jangan berpikir bisa menghubungi sesuka hati.
  • Jika Anda japri guru sesuka hati, bersiap jika Anda tidak dilayani.
  • Tidak ada WhatsApp Group.
  • Jangan bayangi  guru-guru kirim foto anak.
  • Maka jika Anda berharap guru mengirim foto anak sedang belajar atau pun beraktivitas. Maka sampai memutih pun Anda menunggu, mereka enggan melakukannya.
  • Apalagi kalau ada mau protes kenapa foto anak Anda tak pernah tayang. Bakal jadi pelototan orang – orang sekitar Anda (Privacy itu utama, khas negara maju).
  • Selain jam yang sudah di tentukan guru susah ditelepon.
  • Jika ingin bertemu dengan Guru harus memakai perjanjian, tidak bisa asal bikin janji.
  • Maka Jangan pernah berharap Anda main selonong boys datang ke sekolah minta hari itu juga ketemu dengan guru anak Anda tanpa janji sebelumnya. Meski mau kiamat rasanya sebab mendengar anak Anda baru berantem dengan temannya.
  • Dst yang kalau saya jemberengin bakal jadi satu Vol. tersendiri.

Gimana cukup gelengkan?

Saat mengobrol dengan orangtua – orangtua dari Indonesia, hal ini yang menjadi paling mengganjal buat mereka saat menjalani pendidikan di Finlandia. Banyak yang bingung, gemes tapi pasrah, ya mau bagaimana lagi negeri orang kan, wajib patuh sajalah. Mungkin Anda mulai berpikir kenapa segitu nya banget ya Finlandia memperlakukan guru mereka.

Tapi tahukah Anda?

Saat Guru dihargai, maka tanpa sadar kita memberikan pendidikan terbaik kepada anak. Alih-alih menyalahkan guru. jika target pembelajaran tidak tercapai, maka orangtua memilih bekerja sama dengan guru untuk mensupport  anak menyelesaikan tugasnya. maka apa hasilnya?

Ya benar seperti dugaan Anda, bahwa anak akan merasa bahwa mencapai target adalah tanggung jawab mereka, bukan beban mereka, sikap positif Anda menguatkan anak untuk berani mengambil tanggung jawab itu menjadi tanggung jawab pribadi mereka. Jadi wajar kolaborasi dukungan orangtua dan guru ini mampu menempah mental anak menjadi pemenang tanpa persaingan.

siapa bilang siswa Finlandia tidak kompetitif?

Mereka sangat kompetitif, tetapi bukan atas dari bersaing dengan orang lain, melainkan mereka selalu menjadi terbaik untuk diri mereka sendiri. Mereka sadar harus “breaking limit” diri mereka sendiri jika ingin berhasil mencapai tujuan.

Jadi ada apa dengan Guru di Finlandia? Ikuti Volume selanjutnya

—Bersambung—

Serie : Bincang Pendidikan vol 2
By Indah Hendrasari
#Inspirasi_indah
#bincangpendidikan
#Finlandia
#Adab-menentukan-amal
#GuruFinlandia

Finlandia; Sekolah santai,Target tinggi

Apa yang ada dalam benak Anda  jika mendengar nama finlandia?

  • Negara dengan pendidikan terbaik di dunia
  • Sekolahnya cuma sebentar
  • Negara paling bahagia sedunia
  • Anak di Finlandia tidak dipaksa belajar tapi belajar sesuai keinginan anak
  • Anak – anak belajar dengan cara main-main saja
  • Sekolah tanpa PR dan ujian
  • Dst

Kalau diurutkan banyak lah, saya ambil dari sisi yang mau saya bahas saja.
Alhamdulillah medio 2019 lalu saya berkesempatan jelajah beberapa negara di Eropa, salah satunya Finlandia. Lawatan pendidikan ini kami lakukan bersama rekan-rekan sesama pendidik dari berbagai daerah di Indonesia untuk menggali inspirasi. Bersyukur kami angkatan ke-8 ini mendapat rezeki paling banyak dibandingkan angkatan sebelumnya, karena kami bisa mendapatkan pengalaman bukan sekedar sharing melainkan masuk kelas ikut pembelajaran, Mulai dari Playgroup, Taman Kanak, Daycare, SD, SMP, SMA, Youth House dan Universitas kami jelajahi serta yang menjadi rezeki banget itu saat kami di pandu oleh para petinggi-nya. Seperti di Aalto University kami di pandu oleh salah satu director lab nya, mengunjungi berbagai workshop di kampus keren itu. 

Di Aalto University setiap minggu nya ada presentasi Start-Up, yang juga akan di hadiri oleh perusahaan yang berniat invest. Bayangkan Anda masih mahasiswa, punya ide gila untuk Start-up maka Anda hanya harus fokus dengan ide Anda itu tanpa pusing memikirkan biaya, karena kampus memfasilitasi agar ide Anda dibayar untuk jadi nyata. Jangan berpikir ini untuk mahasiswa akhir ya, tapi untuk mahasiswa baru pun bisa.

Wah kalau mau menulis tentang Finlandia tidak akan cukup satu artikel, bahkan satu buku pun tak cukup. Terlalu banyak inspirasi sekaligus pil pahit kenyataan tentang Finlandia. Karena bisa jadi apa yang Anda pahami dari apa yang di baca dan dengar tak sesuai ekspektasi Anda ketika datang kesana. 

Oke, saya akan fokus ke tema aja ya, bagaimana Finlandia yang terkenal dengan belajar nya santai ini bisa mempunyai target tinggi. bagaimana lulusan mereka bisa begitu apik nya?
Kolaborasi sikap, pengetahuan serta pemahaman diri sendiri anak – anak Finlandia sangat baik.

Saya terkejut saat masuk kelas lower anak – anak tidak terusik dengan kedatangan kami, mereka tetap fokus belajar DENGAN DUDUK TENANG DI ATAS KURSI dan TANGAN  DI ATAS MEJA. Mendengar serius guru mereka menjelaskan dengan menggunakan PAPAN TULIS.

Saat di Indonesia mulai bergaung agar anak-anak lower di bebaskan cara belajar nya dengan makna yang bias. Di Finlandia makna bebas belajar itu sangat “clear”Selama “dua bulan” benar “dua bulan”, Anda tidak salah baca. Selama “dua bulan” bahkan bisa jadi lebih tergantung anak- anak mereka. Anak – anak belajar tentang ADAB BELAJAR terlebih dahulu, mereka merumuskan mau belajar apa selama setahun, bagaimana sikap yang diterima, bagaimana sikap yang tidak diterima, seperti apa gambaran kelas itu, bagaimana mereka mau berinteraksi satu sama lain, persis kayak mau menjalin hubungan begitu, semua detail dan tertulis. Hingga dalam pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) hampir mustahil akan terjadi pertentangan antara sekolah dan orang tua atau antara guru dan siswa atau antara manajemen sekolah dan guru.

Itu baru satu sisi, yang lebih mencengangkan Saya adalah di Finlandia target belajar tinggi, saya pergi ke salah satu pre-school dan daycare disana yang kebetulan negeri punya. Jadi disana ada sekolah negeri ada sekolah swasta, tapi sekolah swasta juga dibiayai sebagian oleh negara. Karena sekolah swasta harus tunduk dengan ketentuan pendidikan nasional nya juga. Apa bedanya sekolah negeri dengan sekolah swasta? Hampir tak ada kecuali perbedaan di tujuan value sekolahnya. Misalnya, salah satu sekolah swasta yang kami kunjungi adalah sekolah Perancis. Nah sekolah swasta ini mau mengembangkan nilai budaya Prancis, begitu pun bahasa pengantar nya Prancis. Ya hanya itu bedanya,  jomplang banget ya kalau sama di sini.

Kembali ke preschool tadi. Saat datang kesana saya terkejut karena anak – anak mereka itu sudah bisa membaca di usia dini. Saya yang penasaran langsung dong tidak mau menyia-nyiakan kesempatan kenapa mereka nekad membuat anak usia dini mereka bisa membaca secepat itu. Apa mereka tidak takut, anak-anak mereka terkena berbagai gangguan belajar disebabkan anak-anak mereka di gegas. Dan Anda tahu apa reaksi kepala sekolahnya atas pertanyaan saya ini. Beliau bengong sesaat dan tersenyum, beliau bingung kenapa saya berpikir bahwa anak-anak di sekolahnya “digegas”. Beliau pun bertanya apa yang di maksud dengan di gegas itu. Kemudian dengan khas orang Asia saya menjelaskan pikiran saya. Bahwa dengan usia se muda itu bisa membaca, bukankah tak boleh di ajarkan? Bukankah sebaiknya anak di kembangkan dahulu potensi lainnya, dengan begitu anak cinta belajar dan bisa membaca dengan sendirinya.

Beliau pun senyum menenangkan (saya suka melihat cara pendidik di Finlandia ini, cara mereka sungguh menenangkan dan menyejukkan) sambil menjelaskan. Memang mengajarkan calistung kepada anak usia dini itu dilarang, tetapi memfasilitasi anak calistung itu merupakan”keharusan.

“Bagaimana Anda berpikir bahwa memfasilitasi itu sama dengan menggegasnya? Itu sama sekali berbeda. Yang kami lakukan disini adalah memfasilitasi dengan semua yang kami bisa, kemudian dari situ anak tertarik dan minta belajar sendiri, dan itu sangat jauh dari menggegas”

Tak mau salah pemahaman saya pun bertanya lagi “ Tapi Anda disini menyediakan waktu khusus untuk calistung, apakah itu tidak mengajarkan namanya? Apa bedanya?”

Sang Kepala sekolah pun kembali tersenyum memamerkan barisan giginya yang putih “Kami sediakan betul, kami sampaikan betul, tapi kami tidak pernah mengajarkannya, menyediakan dan menyampaikannya adalah fasilitas bukan mengajarkan”

Saya pun terhenyak, baru terbangun dari kesadaran. Ya benar kita suka salah tanggap, ketika para pakar pendidikan itu bilang jangan ajarkan maka bukan berarti tidak sama sekali diberi fasilitas. Melainkan cara kita menciptakan lingkungan, yang menentukan kita sedang memfasilitasi atau sedang mengajar. Bedanya ada di cara.

Itu baru di usia dini, bagaimana usia dasar dan usia menengah? Ini bisa bikin Anda geleng – geleng antara takjub dan gemas. Takjub karena adab anak – anak mereka di semua kelas sama. Adab orang tua kepada guru itu sangat tinggi. Saya serius,  di Finlandia Anda hampir tidak akan menemukan orang tua yang komplain sama guru. Mereka memakai prinsip tabayyun. Asli tabayyun gaya kita muslim, disini saya miris negara yang bukan islam, malah mungkin tidak mengerti ajaran Islam tapi penerapan hidupnya Islami banget.

Di Finlandia menerapkan “kelas yang damai”,  disana yang diperhatikan bukan sekedar hasil  anak – anaknya tetapi juga kualitas gurunya termasuk kualitas kebahagiaan gurunya. Anda tidak akan  mendapati ada guru yang di usik karena tupperware anak nya ketinggalan, guru yang di chat malam – malam karena anaknya mengambek atau guru dilaporkan karena menyelesaikan anak – anak bermasalah.

Orang tua Finlandia itu sangat percaya sekolah dan menghormati guru. Saya agak mulai memahami keterkaitan ini, bagaimana bisa Finlandia yang sekolahnya santai (cuma  sekitar 4 jam sehari) bisa anak – anak nya apik begitu. Ternyata kalau mau belajar terhadap pendidikan Islam inilah namanya “berkah guru”. Sebab dalam Islam tidak hanya kehebatan atau kepintaran sang anak saja yang menentukan keberhasilan pembelajaran tetapi juga keridhoan guru.

Bagi Orangtua di Finlandia mereka menempatkan guru sebagai partner nya yaitu “orang tua kedua” bagi anaknya bukan “pengganti dirinya”, ini tentu akan berbeda sikapnya jika makna pertama dengan makna kedua diterapkan. Mereka juga memposisikan  sekolah menjadi  “rumah kedua” bagi anak mereka. Saat mereka memilih sekolah untuk anaknya (sistem zonasi untuk sekolah negeri, bisa memilih sekolah swasta yang tidak termasuk zona mereka dengan beberapa ketentuan) maka mereka sudah  memahami bahwa mereka harus menghargai makna profesi yang ada di sekolah itu, artinya mereka seakan sami’na wa atho’na.

Terus kalau ada kebijakan atau sikap sekolah atau guru yang tidak berkenan bagaimana dong. masak tidak boleh komplain?
Benaran disana kalau orangtua ada yang kurang sependapat maka mereka akan melakukan tabayyun atau kritik dengan cara yang sangat sopan tanpa menjatuhkan marwah sekolah atau izzah guru. Sebab target para orangtua di Finlandia ini bukan menang – kalah terhadap sekolah, melainkan solusi atas kebermanfaatan bersama.

Sikap mereka di atas tidak mengejutkan sih karena dalam benak para orangtua Finlandia pekerjaan mengajar adalah pekerjaan yang sangat kompleks. Penuh dinamika dan sangat dinamis, karena harus selalu update dengan tantangan zaman serta menentukan peradaban generasi penerus mereka. Sehingga bagi orangtua Finlandia sekolah itu  perlu didukung dalam semua aspek. Bukan memandang sekolah sebagai tempat penitipan anak karena mereka kerepotan mendidik anak atau pun sebagai loundry karena mereka tak sanggup mendidik anak mereka.

Hingga tak heran, jika sikap orang tua Finlandia atas suatu peristiwa atau pun kebijakan sekolah adalah tidak langsung menyalahkan atau pun asumsi atau pun judge. Bahkan pada hal yang menurut kita di Indonesia itu biasa pun tak mereka lakukan. contohnya, saat anak mereka tidak mencapai target pembelajaran yang harus di capai, maka Orangtua Finlandia tidak menyalahkan guru apalagi sampai menuduh guru membeda-bedakan anaknya. Melainkan yang mereka lakukan saat guru mengalami kesulitan mengajar kepada seorang siswa adalah membantu semaksimal mungkin agar anak bisa “breaking limit” hingga target bisa tercapai.

Di Finlandia bukan target yang dikurangi. Melainkan sekolah dan rumah jungkir balik mencari solusi bersama agar anak bisa mencapai targetnya. Disini saya merembes, sedih membayangkan negeri sendiri. Dimana masing – masing saling lempar tanggung jawab dan kesalahan. Hingga tidak heran hasil lulusan kita ya begitu. Wajar sih ini bisa terjadi disana, karena di Finlandia “negara hadir”. Bayangkan satu anak di urus satu negara. maksud nya bagaimana, lain kali ya kita bahas.

Satu lagi hal yang bikin mak nyesss, mereka para orangtua di Finlandia ini  menganggap guru adalah pahlawan kesuksesan bagi anak-anak mereka. Karena itu, tak usah terkejut jika jadi guru disana dapat surat apresiasi dari siswa nya atau para siswa memajang photo guru mereka di kamar. Bahkan ada yang menuliskan nama guru mereka dengan menandai nya sebagai “My Inspiration” karena saking hormat nya siswa kepada guru.

Jadi sangat minim kemungkinan akan mendapati sikap orangtua beranggapan guru sebagai pengasuh atau buruh pendidikan yang harus bertanggung jawab membuat anak mereka hebat. Maka mahasiswa tingkat satu sudah start-up di Finlandia ya tidak heran. Karena kualitas pendidikan nya begitu. Saya tekan kan Pendidikan (pendidikan itu semua aspek. Ada pihak pemerintah, sekolah, orangtua, organisasi sosial atau lembaga masyarakat, dsb) bukan kualitas sekolah. Karena kalau sekolah, banyak sekolah Indonesia kayak sekolah-sekolah di Finlandia mah, salah satunya kayak Sekolah kami tapi sistem pendidikan di Finlandia ini yang jauh banget antara Indonesia dengan Finlandia.

Serie : Bincang Pendidikan vol 1
By Indah Hendrasari
#Inspirasi_indah
#bincangpendidikan
#Finlandia
#Adab-menentukan-amal

My Home Parenting

Slah satu tugas pengasuhan kita adalah mendidik anak agar mereka kelak mampu menjaga seksualitas yang benar. Pendidikan seksualitas dalam Islam bukan hanya terkait dengan mengajarkan organ reproduksi tetapi terkait dengan totalitas kepribadian seseorang. Laki-laki menjadi laki-laki dan perempuan menjadi perempuan. Terkait dengan apa yang ia rasakan, pikirkan, bagaimana cara ia berjalan, itulah sejatinya laki-laki dan sejatinya perempuan. Maka Islam membuat patokan bahwa pendidikan seksualitas terkait dengan terpenuhinya tiga hal :

  1. Seksualitas yang benar.
  2. Seksualitas yang sehat.
  3. Seksualitas yang lurus.

Seksualitas yang benar 

Tentu patokannya adalah Syari’ah, yaitu bagaimana perilaku orang laki-laki secara AlQur’an dan Sunnah. Bagaimana mengajarkan anak sesuai dengan kaedah Syari’ah. Bagaimana seorang laki-laki akan bersikap dalam perannya, sebagai diri pribadi, sebagai calon dai, sebagai calon suami dan juga sebagai calon ayah. Bagaimana adab dan value yang akan ditegakkan, itu harus clear. Seksualitas yang sehat, yaitu berkaitan dengan faktor kesehatan. Bagaimana disunahkan laki-laki untuk ber-khitan, terkait dengan fungsi kesehatannya. Dan itulah salah satu yang diajarkan dalam Islam. Seksualitas yang lurus, artinya sesuai dengan fitrahnya. Jangan sampai ada anak laki-laki badannya gempal, berotot, tetapi gayanya seperti orang perempuan (maho, homo). Tugas orangtua adalah menjaga agar fitrah anak laki-lakinya sebagai anak laki-laki secara benar, sehat dan lurus.
Bagaimana ikhtiar kita agar terjaga fitrah seksualitas anak lelaki :

  1. Clearkan tujuan pengasuhan >>>
    Harus jelas anak lelaki kita ditanamkan value apa, setiap perannya harus dikuatkan value nya, hingga anak lelakipun mempunyai konsep diri utuh sebagai lelaki, hingga mampu melahirkan visi dirinya, yang mana ini akan membimbingnya dalam mewujudkan hakikat dia hadir kedunia.
  2. Hadir kan figur ayah
    Hasil pengamatan dan diskusi sebuah lembaga pada suatu komunitas kaum Gay, maka didapati sbb:
  • Alasan terbanyak kenapa mereka menjadi gay
    >>> Sejak kecil tidak punya sosok ayah. Sejak kecil tidak pernah ada stimulasi ayah. Semua pengasuhan oleh ibunya tidak pernah mengenal ayah.
    Diketahui bahwa >>>Kalau anak laki-laki itu tidak punya ayah sejak kecil karena ayahnya mati, atau cerai, tetapi tidak punya kebencian terhadap ayah, maka anak laki-laki itu belum tentu atau belum ketaraf menjadi gay, hanya gayanya saja seperti perempuan (feminin). Misalnya seorang anak laki-laki, ayahnya tidak pernah mengurusinya, karena sibuk kerja, atau ayahnya meninggal tidak ada sosok ayah pengganti, paman atau kakeknya tidak ada, ia diurus oleh perempuan (ibunya) saja maka anak laki-laki itu cenderung bergaya feminin. Tetapi ia tetap punya ketertarikan dengan lawan jenis. Jika gayanya feminin, cara bicaranya, cara marahnya, hal itu disebabkan selama ini ia hanya menirukan ibunya.
  • Tetapi jikalau seorang anak laki-laki trauma dengan sosok ayah.
    Sering mendapatkan kekerasan sang ayah, seperti; bicaranya keras, menampar, menendang, memukul dirinya, dan juga melihat ayahnya menampar ibunya di depan matanya, hingga menimbulkan trauma dan muncul kebencian dalam jiwanya :

♢♢♢Laki-laki itu jahat, ibuku disakiti, ibuku jadi korban kejahatan ayahnya, dst.♢♢♢

Maka akan ter-stigma dalam otak anak laki-laki itu : Aku tidak mau menjadi laki-laki. Kemudian membuatnya cenderung bermain dengan anak perempuan. Itulah yang menjadi pemicu utama mengapa anak laki-laki menjadi Gay. Oleh karena itu pendidikan untuk anak laki-laki mutlak harus diasuh oleh sosok laki-laki. Seseorang ingin mendidik anak laki-laki menjadi laki-laki sejati, tetapi dalam kehidupan masa kecilnya tidak ada sosok laki-laki yang mengasuhnya, mana mungkin anak laki-laki itu belajar sebagai laki-laki. Fitrahnya itulah yang menjadi rusak.

  1. Pastikan fitrah imannya terbangun sempurna
    Diatas sudah dijelaskan bahwa patokan pendidikan seksualitas salah satu unsurnya adalah BENAR, nah agar seksualitas itu bisa benar maka imanlah pondasinya. dimana fitrah iman dimaksud berupa keimanan (akidah), pola berpikir, pola sikap dan akhlak.
  2. Ajarkan sayang ibu
    Banyak anak lelaki yang sudah menikah lupa bahwa dia tetap bertanggung jawab terhadap ibunya, bahwa ibunya wajib didahulukannya dibanding istrinya. Oleh sebab itu sebelum mengajarkan anak banyak hal, ajarkan dulu tentang sayang ibu,jika fitrahnya terfasilitasi dengan baik maka sayang ibu itu sudah dengan sendirinya terinstal,sebab ibu adalah orang terdekat anak diawal usianya, kelekatan di 2 tahun masa menyusui, juga pendampingan penuh 5 tahun kehidupannya, merupakan bekal cukup sebagai langkah awal agar ia punya karakter sayang ibu, sebab lelaki yang sayang ibu bisa dipastikan sayang istri, sayang ibu bukan manja ibu, sayang ibu ada tanggung jawab, ada kasih sayang, ada penghormatan, ada hubungan positif, tetapi kalau manja ibu hanya akan melahirkan generasi peter pan sydrome.
  3. Ajarkan sebagai wali keluarga
    Sejatinya anak lelaki itu ada penerus klan keluarganya, ini dipertegaskan dengan hadits “ Kelak pada hari kiamat kalian akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian, oleh karena itu perbaguslah nama kalian” (HR. Abu daud, Ahmad dan lainnya). Hadits ini jelas menegaskan bahwa anak lelaki adalah penanggung jawab keluarga. Sebagai penerus, maka ia wajib menjaga value keluarga, fungsi anak lelaki dikeluarganya adalah sebagai Value keeper,

dia yang harus turun tangan jika terjadi sesuatu terhadap keluarganya, ia pun tetap bertanggung jawab terhadap ayah ibunya, juga saudarinya, meski ia sudah menikah.

Maka didiklah anak lelaki kita agar siap menjalani peran ini….

  1. Libatkan Pekerjaan Rumah tangga
    Anak lelaki kita akan menjalani perannya sebagai calon suami dan ayah, maka salah satu cara menjaga fitrah seksualitasnya adalah mengajarkannya dalam urusan pekerjaan rumah tangga. Mulai dari pekerjaan khas lelaki seperti pertukangan, benerin atap, peralatan elektronik, sampai yang diidentikkan pekerjaan wanita seperti memasak, mencuci baju dan piring, membersihkan rumah, bekal ini perlu untuk nanti jika suatu masa istrinya hamil, atau sakit atau sibuk dengan anak, maka sebagai qowwam keluarga dia sudah terbiasa dan handal berkolaborasi sinergi menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
  2. Baurkan dalam permasalahan sosial masyarakat
    Sebagai khalifah, maka tugas anak lelaki adalah mengawal alam ini tunduk patuh kepada kemauan pencipta yaitu ALLAH subhanahu wata’ala, maka anak lelaki bukan untuk dipingit dalam rumah, dia harus di siapkan agar mampu melakukan pengembaraan yang panjang dalam rangka menyiapkan mental pemimpinnya, dengan berkelana maka ia akan mampu mengambil kebijaksanaan hidup. Mulai umur 3 tahun anak lelaki itu sebaiknya lebih sering main dialam, tracking tiap minggu, melatih fisik, mengobservasi lingkungan, memetakan masalah dsb, hingga kelak ia punya bekal untuk mengambil peran dalam menyelesaikan permasalahan ummat dan bangsa. Cara melibatkan disini bisa dengan hal yang sederhana dulu, yaitu menggembala, melakukan project layanan, program hidup dimasyarakat, merantau dsb. Sebenarnya masih banyak lagi hal yang harus dilakukan dalam menjaga fitrah seksuaitas lelaki ini, tetapi poin-poin diatas saya sarikan sebagai poin paling mendasar yang wajib dilakukan..

Wallahu ‘alam bishowab

Buat kawan – kawan yang mau share silahkan saja, tak perlu ijin, jika ingin copas, dimohon cantumkan nama penulisnya ya…
Terima kasih yang udah mau baca, like, komen dan share….

#SerieQowwam vol 2
#MyHomeParenting
#Pengasuhan_anak_lelaki
By : Indah Hendrasari

Need Service? Call Us